Pendiri Almuslim Peusangan

Dr Saifullah SAg Mpd

Dr. Saifullah, S.Ag,. M.Pd

[dropcap]P[/dropcap]endidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.

Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini.

Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat.

Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan untuk memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.

Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan, akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa.

Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas, dimana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya.

Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh pendidikan, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.

Islam adalah agama yang paling serius memperhatikan ilmu pengetahuan, ini dapat dibuktikan bahwa ayat pertama yang disampaikan Jibril kepada Muhammad Saw. adalah Iqra’ (bacalah). Iqra’ bersama perangkat filosofinya menunjukan bahwa Islam adalah agama modern.

Ada empat bentuk tarbiyah yang perlu mendapat perhatian serius oleh para pelaku pendidikan Islam hari ini, yaitu Tarbiyah Imaniyah(keimanan), Tarbiyah Ilmiah (keilmuan), Tarbiyah Wa’iyah (penyadaran) dan Tarbiyah Mutadarrijah(bertahap), keempat tarbiyah tersebut harus mampu diterapkan dalam dataran operasional pendidikan Islam, yang pada akhirnya mampu membedakan antara pendidikan Islam dengan pendidikan lain pada umumnya.

Sejak terpisahnya ilmu dari induknya (Filsafat), maka muncullah pemikiran humanistik dikalangan bangsa Barat tentang konsep ilmu. Faham humanistik cendrung mengandalkan manusia sebagai pusat segala-galanya.

Dengan indra dan akalnya manusia mampu mencapai apa yang dikehendakinya berfikir tanpa dikaitkan pada doktrin agama, ilmu dianggap sebagai produk akal intelektual semata-mata yang terpisah dari segala unsur spiritual, padahal kesuksesan seorang manusia sangat ditentukan oleh intelektual,,emotional dan spritual,  karena hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yag sangat erat secara fungsional, antara satu dengan yang lainnya saling menentukan, bahwa otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional, dan kecerdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual dan upaya untuk mendapatkan kecerdasan emosional sangat terkait dengan upaya memperoleh kecerdasan spiritual”, jika faham humanistik cendrung mengandalkan akal sebagai pusat segala-galanya. Ini bertanda bahwa merupakan awal lahirnya Sekularisasi  yang sebenarnya. Di mana agama dan dunia dipisahkan.

Dari segi inilah manusia tidak lagi berbicara akan pentingnya agama bagi kehidupan, melainkan kemandirian yang dirasakan sebagai akibat berkuasanya akal pada dirinya. Manusia telah berada dalam pola pemikiran ontologik yang bersifat substansialisme. Manusia berpendirian seolah-olah dengan akal budinya mampu menangkap dan mengerti segala-galanya tanpa tergantung pada subyek yang memiliki kemampuan suprational.

Dampak yang sangat terasa sekali dari pemikiran sekulerisasi itu adalah terpusatnya manusia pada upaya mempelajari nilai-nilai duniawiyah dalam arti individu dan universal, karena ilmu keilahiyah tidak dimasukkan ke dalam kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan di semua tingkatan terutama di dunia Barat. Sedangkan di dunia muslim muncul pandangan dikhotomis terhadap rumusan dan konsep pendidikan yang konsekwensi moralnya “taxonomy ilmu pengetahuan” dengan sumber yang jauh dipisahkan pemahamannya kerena landasan pijaknya yang berbeda.

Konsep dikhotomi terus berkembang dalam dunia pendidikan, akibat diterimanya konsep Barat, yaitu pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum, di sisi lain muncul Dayah atau Pondok Pesantren yang mengisolir diri dari pergumulan pemikiran tentang konsep ilmu, bahkan memusatkan perhatiannya pada ilmu agama dan seolah-olah melepaskan diri dari pemahaman tentang ilmu lain yang telah berkembang pesat juga sebagai suatu disiplin.

Inilah dua kenyataan yang dihadapi dunia Islam, yang jelas menjadi dilema dalam pendidikan Islam dan tentunya menghambat upaya pembentukan kepribadian muslim dalam rangka tercapainya tujuan hidup muslim secara pedagogik, kekhawatiran akan terus menurunnya nilai-nilai moral dalam proses lahirnya generasi baru dalam masyarakat Islam di masa mendatang condong untuk dirasakan. Betapa tidak budaya dan peradaban Barat makin mendesak untuk memasuki kesempatan yang belum ditangani, khususnya dibidang pendidikan yang merupakan kreteria kecemerlangan dan idealisme generasi masa depan.

Kepentingan-kepentingan yang tidak berimbang selalu muncul di permukaan antara kehidupan dunia dan akhirat. Menonjolnya kehidupan dunia selalu muncul dari segala aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang pendidikan,  baik yang dikelola oleh swasta maupun negeri, bila hal itu tergolong pendidikan umum cendrung mengembangkan sistem pendidikan Barat. Budaya meniru dan mengadopsi sistem Barat terus berkembang di kalangan umat Islam tanpa pertimbangan sesuai atau tidaknya sistem itu. Dari segi ini yang dipentingkan adalah aspek materi. Ismail Raji al-Faruki dalam kata pengantar bukunya Islamisasi Pendidikan mengatakan bahwa Peniruan ini tidak akan bisa membawa kita mencapai tujuan kita di segala bidang. Maka ia telah menimbulkan deislamisasi terhadap lapisan atas masyarakat muslim dan demoralisasi terhadap lapisan lainnya. Pandangan Islam menjadi kabur karena pandangan-pandangan lain yang kita terima dari penakluk-penakluk kolonial.

Sekularisasi ilmu pengetahuan yang merupakan misi Barat dalam pendidikan terus tersebar dalam lembaga pendidikan Islam. Keadaan ini menimbukan makin menajamnya pandangan-pandangan asing dalam sistem pendidikan yang terbelah ke dalam dua cabang, yang pertama sistem modern dengan ilmu-ilmu sekuler dan kedua sistem Islam dengan ilmu-ilmu agama, yang secara otomatis umat Islam memahami ilmu dalam dua subtansi. Selanjutnya menurut Ismail Raji Faruki bahwa percabangan sistem ini adalah lambang kejatuhan kaum muslimin.

Perkembangan Pendidikan kita pada hari ini lebih banyak mengisi ranah Intelektual dari pada Emosional dan Spritual, sehingga produk pendidikan pada hari ini banyak melahirkan orang pintar tapi tidak benar, masyarakat kini sedang dihinggapi kerawanan sosial dan kultural yang obat penyembuhnya sedang dicari oleh para ahli dari berbagai bidang keilmuan, disana sini para ahli sedang melakukandiagnosis, namu proses diagnosis mereka kalah cepat dari serbuan penyakit baru susul-menyusul, sehingga kronitas penyakit itu tidak dapat dibendung lagi.

Akibat dari persoalan di atas, maka makin membengkaklah akumulasi virus Sekularisasi dan tehno-sosial yang dikembangkan oleh Barat serta ditularkan oleh kepesatan kemajuan iptek itu sendiri, namun tidak bisa juga menyalahkan kemajuan iptek, karena iptek telah menjadi tumpuan harapan manusia, tapi mengharapkan suatu konsep pendidikan yang mampu menjawab semua itu, dengan tetap menghargai terhadap kemajuan iptek yang telah diraih, namun pada gilirannya kita justru menanggung resiko yang makin kompleks yang dapat mencemaskan batin. Itulah peta kehidupan umat manusia masa kini dan masa masa depan. Muzayyin Arifin, mengatakan bahwa itu semua diakibatkan konsep pendidikan kita pada hari ini yang hanya mengandalkan kemampuan intelektualitas dan logika, tanpa memperhatikan perkembanganmental-spritual dan nilai-nilai agama. Ahli Sosial-Futorologi, Theodore Roszak, mengatakan  “Tampaknya kita hidup normal tapi sebenarnya kita berada dalam keadaan sakit. (State of sick normality).

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa disamping pendidikan harus merupakan pencerdasanIntelektual dan Emosional juga yang paling penting adalah aspek pencerdasan spiritual yang memiliki nilai-nilai Ilahiyah dalam pola berfikirnya.

Pemikiran seperti ini dapat dijumpai dalam perkataan Imam Al-Ghazali sendiri dalam kitabnyaAl-Munqiz Minad dhalal, mengatakan bahwa: Sarjana-Sarjana Ilmu pada umumnya dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu: 1) Dahriyun (Materialists), sarjana yang mengingkari adanya tuhan dan mengatakan bahwa dunia hanya terdiri dari materi belaka; 2) Thabi’iyun (Naturalists), sarjana yang menyelidiki rahasia alam, dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu sesudah alam ini; 3) Ilahiyun (Thaists), Sarjana yang memiliki berbagai macam ilmu pengetahuan dan ia berkesimpulan bahwa percaya adanya tuhan yang mengatur alam ini dan menjadikan segenap manusia.

Sarjana yang dikelompokkan kepada Dahriyun dan Thabi’yun merupakan produk pendidikan yang hanya memetingkan aspek Intelektual semata, sehingga dia mengingkari adanya tuhan dan mengatakan bahwa dunia hanya terdiri dari materi belaka. Sehingga kehidupannya hanya mengejar materi. Demikian juga Sarjana Thabi’iyun, berpendapat bahwa tidak ada sesuatu sesudah alam ini, sehingga ia melakukan apa saja yang ia kehendaki, karena ia tidak takut terhadap adanya hari pembalasan yang pada hari itu akan diminta pertanggungjawab manusia dari apa yang telah ia kerjakan.

Peta seperti ini adalah merupakan kenyataan pada hari ini, kita bisa melihat betapa kolusi, korupsi, nepotisme, kesenjangan sosial, anarkisme, dan sadisme seolah-olah merupakan hal yang biasa disekitar kita. Didin Hafidhuddin mengatakan bahwa Korupsi yang terjadi di Negara kita, hampir semuanya dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu, maka menurut Imam Al-Ghazali kita perlu sarjana-sarjana yang bermentalIlahiyun (Thaists), yang tidak hanya cerdas tapi juga jujur yang dapat mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konsep Illahiyun  inilah yang disebut dengan manusia paripurna.

Manusia paripurna (Illahiyun) adalah harus dapat menampilkan dua prestasi kesalehan, yakni kesalehan ilmu dan kesalehan amal. Manusia paripurna (Illahiyun) yang tidak hanya secara vertical functionmenunjukan prestasi kesalehan, tetapi dalam realitas faktualnya sebagai horizontal function, manusia harus menunjukan prestasi kesalehan sosialnya.

Dalam pembahasan filsafat ada tiga subsistem yang digunakan untuk dalam mendekati dan menemukan kebenaran. Urutannya adalah ontology, epistemology dan aksiologi. Pertama, Jalan pertama yang dapat ditempuh untuk sampai kepada kebenaran adalah melalui indra. Aliran filsafat empirisisme bahkan memandang indra sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Sekian banyak ayat yang menganjurkan untuk menggunakan mata, dan telinga. Ini bukti bahwa yang diperintahkan untuk dilihat dan didengar itu adalah sesuatu yang wujud. Al-Qur’an juga menganjurkan untuk melakukan perjalanan dan menjadikan pengalaman sebagai peklajaran yang harus dimanfaatkan. Karena itu kita dapat berkata bahwa dalam pandangan Al-Qur’an wujud yang diinformasikan oleh indra – selama dalam wilayah kerjanya dapat diandalkan dan bahwa apa yang dijangkaunya adalah satu kebenaran.Dengan catatan selama indra itu. Tidak mengalami ganguan dari dalam dan luar dirinya.

Melalui mata, misalnya, kita bisa mengetahui bentuk, keberadaan, sifat-sifat atau krateristik benda-benda yang ada di dunia ini. Melalui lidah kita bisa menentukan sesuatu itu asam, manis atau asin. Sepanjang tidak ada penyakit atau gangguan lainya, biasanya semua orang akan sependapat bahawa gula itu manis dan garam itu asin. Ini adalah wujud kebenaran yang bisa dijangkaukan indra manusia. Bahkan dengan bekal indra, manusia ditunjukkan Tuhan dua jalan yang bisa ditempuh ; jalan kebenaran dan jalan yang salah, sebagaimana tergambar dalam penafsiran Ibn Kathir terhadap ayat Al-Qur’an berikut: Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dua buah bibir. Dan Kami telah  menunjukkan kepadanya dua jalan.(Q.S. Al-Balad : 8-10).

Dalam upaya memperoleh kebenaran dari objek-objek fisik yang tertangkap indra-indra tadi (mahsusat), para ilmuwan umumnya menggunakan metode observasi atau eksperien (tajribi), tetapi dengan bantuan sejumlah metode lain atau alat Bantu ang dicptlakan, seperti Ibn haitsam yang menambahi dengan metode matematika (kalkulus) untuk mengatasi kelemahan observasi langungdengan pandangan mata, ditambah denfgan penggunaan observatorium dan teleskop.

Akan tetapi sebaik-baiknya indra manusia, ia memiliki keterbatasan dalam menemukan kebenaran terhadap objek-objek yang dapat  ditangkapnya. Mata memandang bintang  itu kecil, laut dan langit itu biru, padahal kenyataan ilmiah menunjukkan tidak demikian adanya. Sebab mata hanya dapat menangkap gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu saja, seperti juga telinga misalnya, yang hanya mampu menangkap gelombang cahayanya akan terdiam tak bias bergerak karena apa yang diistilahkan sebagai rabun senja. Tidak demikian halnya dengan anjing, kucing, harimau, dan musang yang wilayah taggapan golongan cahaya oleh kedua matanya jauh lebih tinggi lagi frekuensinya dibandingkan manusia, tak punya kendala apa pun untuk bergerak dalam gelap (gelap untuk ukuran mata manusia).

Kedua, Jalan kedua yang dapat ditempuh ialah jalan akal. Apabila jalan pertama adalah menggunakan indra, yang dimaksud tentu saja adalah indra atau indra lahir. Tapi dalam epistemologi Islam juga dikenal adanya indra batin yang efektif dalam membantu fungsi esensial akal.

Indra batin yang pertama adalah indra bersama (al-hiss al-musytarak), yang menyebabkan sebuah obyek indriawi muncul sebagai sebuah kesatuan yang utuh dengan segala dimensinya dan tidak lagi data parsial yang biasa disumbangkan oleh indra lahir. Indra bersama ini secara ringkas bertugas melakukan sisntesis terhadap apa yang diperoleh dari indra fisik. Contohnya, bulan sabit menunjukkan mata tidak mampu melihat bagian lain dari bulan yang tidak terlihat itu, sehingga terciptalah dalam akal gambaran bulan yang bulat (purnama). Al-hiss al-musytarak ini berlokasi pada ruang (kamar) pertama dari otak depan; bertugas menggabungkan semua bentuk dari objek inderawi yang diterima dari panca indra. Pada saat indra mata melihat madu, kita langsung dapat menyimpulkan bahwa madu itu manis, dan berbau enak, tanpa lidah kita perlu mengecapnya. Sebab memori tentang madu telah tersimpan dalam al-hiss al-musyarak kita.

Indra batin kedua adalah daya imajinasi retentif atau khayal (al-khayal), yang berfungsi merekam dan menyimpan semua objek inderawi yang tertangkap melalui indera lahir. Gangguan pada indra batin inilah yang menyebabkan orang menderita amnesia.

Indra batin ketiga adalah daya estimasi (wahm), yang berfungsi memberi penilaian tentang “maksud tersembunyi” dari sebuah objek indrawi. Melalui wahm, menusia dan hewan menyadari api itu panas dan karenanya juga dinamakan intelejensia hewani. Indra batin keempat adalah imajinasi (al-mtakhayyilah), yang menempati posisi pada bagian tengah otak. Sebagaimana indra batin pertama, ia juga dapat mnengkap atau menyimpulkan bentuk ojek fisik secara utuh. Kelebihan al-mutakhayyilah ialah bias mengabstraksikan bentuk objek fisik yang utuh tersebut. Dengan kata lain, al-mutakhayyilah dapat menggambarkan sendiri objek fisik yang dia lihat dengan wujud yang berbeda dengan wujud objek fisik yang asli. Dengan kata lain, imajinasi adalah kapasitas atau kemampuan untujk menghadirkan atau mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Contoh sederhana Putri duyung yang digambarkan setengah manusia (biasanya gadis cantik) dan setengah ikan, kuda terbang, kuntilanak, dan gambar-gambaran lain yang biasanya kita temukan dalam cerita dongeng.

Indra batin kelima adalah memori (al-hafizhah atau disebut juga al-quwwat al- mutadhakkirah), berlokasi pada bagian belakang otak, da berfungsi merekam bentuk-bentuk imajiner gabungan yang diperoleh dari indra batin keempat. Melalui kelima indra batin tersebut, kita memfungsikan akal untuk menyempurnakan kesan yang kita peroleh dari indera fisik, sehingga menjadilah kesan itu menjadi “pengetahuan sebagaimana adanya”.

Akal dapat membawa kita kepada sesuatu kebenaran karena akal memiliki kemampuan untuk bertanya secara kritis tentang segala hal; apa, bagaimana, siapa, mengapa, kapan, dan  banyak pertanyaan lainnya yang seolah atau bahkan bias tak habis-habisnya, dalam upayanya memperoleh sumber informasi yang membawa kita bermuara kepada kebenaran. Akal dapat pula menangkap esensi (mahiyyah) atau kuiditas (quiddity; sifat atau unsur yang melekat pada sesuatu) dari sesuatu yang diamatinya dan kemudian menyusun dan merumuskan konsep universal dari mengamatan tersebut, menyimpanan, dan “mengeluarkannya” jika diperlukan.

Metode yang paling lazim digunakan untuk kepentingan ini adalah metode demonstrative (burhani), yang pada dasarnya adalah metode logika atau penalaran rasional yang digunakan untuk menguji kebenaran. Dalam gambaran al-Farabi, metode ini antara lain mengatur dan menuntun akal kea rah pemikiran yang benar dalm hubungannya dengan setiap pengetahuan yang mungkin salah, melindungi suatu pengetahuan dari kemungkinan salah, dan menjadi alat bantu dalam menguji dan memeriksa pengetahuan yang mungkin tidak, atau belum tentu bebas dari kesalahan. Mengetahui jalan menuju kebenaran, jpada saatu yang sama, kita harus tahu jalan yang menjerumuskan kita kepada kesalahan. Meski demikian, para ilmuwan Muslim, menyadari betapa akal pun punya keterabatasan. Al-Ghazali mengatakan, apa yang kita alami dalam mimpi semua terlihat masuk akal, tapi setelah tersadar kita menyadari akal tak mampu memahaminya. Ibn Khaldun pun demikian pula. Akal, katanya, sempurna sebagai timbangan emas atau perak, tapi tak mungkin digunakan menimbang gunung. Sehingga diperluakan tambahan jalan lain untuk sampai kepada gunung kebenaran.

Ketiga, Jalan ketiga adalah jalan hati (qalb) atau jalan intuisi, yaitu jalan pada saat akal tak mampu memahami wilayah emosional, maka hatilah yang akan berperan. Sebab hati dapat menerobos ke alam gaib dan mengalami hal-hal yang bersifat mistik atau religius. Labih dari itu, hati pun bisa memahami sebuah peristiwa sebagai sebuah peristiwa yang khusus dengan menghindari kecendurangan-kencedurangan genaralisasi yang bersifat rasional. Dengan akal, seorang pengarang atau sutradara film menggambarkan kisah cintah yang hamper pasti, selalu dibumbui dengan pernyataan “aku cinta padamu” (baca: bahasa rasional), tetapi sepasang manusia yang mengalaminya langsung, justru bisa-bisa tak pernah mengucapkan kalimat iru sepanjang hidupnya, tapi cukup dengan pandangan mata dan getaran sukma yang punya makna lebih mendalam bagi keduanya (baca : bahasa hati).

Contoh yang sangat menarik dan tetap controversial bagi kita tentu saja cinta yang begitu mendalam yang menyebabkan seorang Al-Hallaj tak lagi menyebut ana al-Hallaj tapi talah berubah menajdiana al-Haqq, karena ia menganggap dirinya telah bersatu dengan kekasihnya, yaitu Allah. Jalan kedua dan ketiga yang dikemukakan yaitu jalan akal dan jalan hati sesungguhnya hampir bersinggungan. Lebih tepat menyebut ada wilayah-wilayah tertentu dimana keduanya bisa dan dapat bersinggungan.

Dalam Risalah tentang Akal akal al-Kindi, dikemukakan bagaimana jiwa berfikir secara pontesial dan beralih menjadi actual disebabkan adanya akal pertama. Jika suatu bentuk yang rasional menyatu dengan jiwa, maka jiwa dan akal adalah hal yang sama atau suatu kenyataan tunggal; sebagai pelaku pemikiran (‘aqil), sekaligus sasaran pemikiran (ma’qul).

Penulis Dr. Saifullah, S.Ag,. M.Pd

About

Biro IAI Almuslim Aceh