104 Lulusan IAI Almuslim Aceh Tahun 2017

PIDATO REKTOR IAI ALMUSLIM ACEH

Pada Acara Wisuda, Kamis, 02 Maret 2017 di Auditorium IAI Almuslim Aceh

Assalamu’alaikum wr-wb,
Alhamdulillahirabbil ‘alamin
Wasshalatu wassamu ‘ala asrafil ambiya-i war mursalin,
Wa’ala alihi wasahbihi ajmain.

Pada kesempatan yang cukup khidmad ini, terlebih dahulu kami sampaikan ucapan selamat datang dan salam, serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak, Ibu atas kesempatan memenuhi undangan kami untuk menghadiri acara rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Institut Agama Islam Almuslim di Auditorium IAI Almuslim tercinta ini. Merupakan suatu kebanggaan dan kebahagian tersendiri bagi kami atas kehadiran bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian. Kehadiran Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian semakin menambah kebahagian dan kehormatan prosesi acara wisuda yang kita laksanakan pada hari ini.

Apa yang telah dicapai IAI Almuslim Aceh saat ini, berkat karunia Allah SWT. dan kerja keras seluruh staf, partisipasi seluruh mahasiswa dan keluarga besar IAI Almuslim Aceh serta dorongan, bantuan dan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, baik perorangan, lembaga maupun pemerintah.
Wisuda merupakan puncak dari proses pendidikan di perguruan tinggi. Akan tetapi, wisuda bukanlah segala-galanya dalam konteks belajar sepanjang hayat (long-life education). Sebab, manusia adalah makhluk pembelajar yang tidak pernah mengenal kata berhenti. Begitu pentingnya belajar, sehingga Rasulullah sampai bersabda “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat” (اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد). Dalam hadits lain juga dijelaskan “Barasiapa dalam perjalanan hidupnya ada waktu-waktu tertentu yang digunakan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.

Mengawali pidato ini kami akan khususnya sejenak dengan anak-anak kami para wisudawan. Islam sejak awal sejarahnya telah memperhatikan secara sungguh-sungguh, tentang moral, ilmu, pengkaderan, dakwah dan perjuangan. Perhatian Islam tentang moral sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAW. dalam misi kerasulannya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang paling baik akhlaknya”.
Tentang ilmu, Allah SWT menjamin bahwa orang-orang yang beriman dan mempunyai ilmu pengetahuan akan mendapatkan kehormatan yang tinggi dalam kehidupan. Perihal pengkaderan, sebagai upaya mewujudkan sumber daya manusia yang handal yang diharapkan mampu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di atas dunia ini. Rasulullah SAW pada awal perjuangannya membuka sendiri lembaga pendidikan Darul Arqam; dari sinilah keluar kader-kader umat yang mempunyai berbagai keahlian untuk membangun masyarakat muslim awal di Madinah yang dalam bahasa Alquran disebut sebagai “Baldatun Thayibatun Warabbun Ghafur“ (Negeri yang aman, damai, sejahtera, adil, makmur dan diridhai Allah SWT).
Untuk mewujudkan hal ini, Allah SWT memberi isyarat kepada orang-orang yang beriman, untuk tidak semuanya mengangkat senjata untuk berperang, akan tetapi hendaklah ada diantara mereka yang dengan tekun, gigih, semangat untuk mendalami persoalan agama, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi didalamnya. Selanjutnya, Allah SWT memberikan isyarat agar mereka, setelah selesai dari studinya, kembali ke masyarakat untuk membangun negerinya.

Oleh karena itu, atas nama Rektor IAI Almuslim Aceh, merasa bahagia, dan sekaligus bersyukur telah dapat meluluskan Sarjana Negara Tingkat Strata 1 sebanyak 104 orang tahun ini, yang terdiri dari Fakultas Tarbiyah sebanyak 84 orang, dan Fakultas Syari’ah sebanyak 20 orang. 14 orang di antara mereka berhasil lulus dengan prediket Cumlode (pujian).
104 (Seratus Empat) lulusan tersebut di dalam kampus, mereka telah dilatih untuk mengantisipasi, merespons dan menjawab berbagai masalah. Mahasiswa dilatih untuk melakukan ini semua dengan berbasiskan pengetahuan ilmiah, dan dengan cara yang ilmiah. Tetapi masalah-masalah di luar kampus berbeda karakter dari masalah-masalah di dalam kampus.
Di luar kampus, yaitu di ‘laboratorium sosial’, masalah-masalah dicirikan oleh dua hal: keberagaman dan kompleksitas. Untuk merespons dan menjawab masalah di ‘laboratorium sosial, seorang sarjana perlu terlibat dalam interaksi dan dialog dengan beragam pihak di masyarakat, dan melakukan pembelajaran melalui interaksi dan dialog tersebut. Seorang sarjana perlu menjadi pelaku yang aktif dalam pembelajaran di berbagai organisasi di masyarakat. Melalui pembelajaran tersebut, keberagaman dapat dipelajari serta keterkaitan antara masalah yang satu dengan masalah-masalah yang lain dapat ditelusuri. Pembelajaran ini dapat bersifat intra-organisasi ataupun antar-organisasi. Keberagaman dan kompleksitas masalah di ‘laboratorium sosial’ membawa implikasi bahwa solusi atas masalah tersebut membutuhkan pendekatan multi dan antar-disiplin ilmu pengetahuan.
Untuk itu, kepada anak-anak kami para wisudawan kami berpesan:

1. Kepada para wisudawan agar selalu menjadi muslim yang selalu mencintai ilmu dan tidak berhenti menuntut ilmu
Dalam Islam, menuntut ilmu tidak ada batas tempat dan waktu. Selagi dia masih hidup dan memiliki kesadaran dituntut terus belajar. Ilmu adalah alat bagi seseorang untuk meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

2. Jadilah para wisudawan hari ini menjadi orang yang terus berkarya dan berprestasi
Seorang sarjana setelah menyelesaikan studinya diharapkan untuk dapat bekerja dan berkarya. Bekerja adalah kewajiban dan sekaligus ibadah. Dalam sebuah hadis Nabi menyebutkan “bekerja itu adalah perjuangan di jalan Allah”. Bekerja membutuhkan ketekunan, kesungguhan, kedisiplinan dan professional. Bekerja tidak harus menjadi pegawai negeri, masih banyak lapangan pekerjaan lain yang bisa saudara lakukan.
Hidup berwiraswasta perlu ditumbuh kembangkan, tidak perlu gengsi pilih-pilih pekerjaan. Asal pekerjaan itu baik dan halal, bismillah, laksanakan pekerjaan itu dengan baik. Salah satu modal yang amat besar untuk meraih kesuksesan bekerja adalah akhlak, ketekunan, skill dan sikap mandiri. Ada pepatah orang bijak mengatakan. Secerdas apapu seseorang tanpa dibarengi dengan akhlak dan keseriusan itu omong kosong dan tidak akan laku dipasaran.

3. Para wisudawan hari ini diharapkan menjadi orang yang rendah hati (muthawadhi’), tidak sombong dan tidak congkak, tetapi mampu bersikap sopan santun terhadap siapapun
Orang yang sombong dan congkak tidak dicintai Allah dan manusiapun akan lari dan menjauhkan dari padanya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhanya Allah SWT tidak mencitai orang yang congkak dan sombong”. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Disebabkan karena rahmat dari Allah lah kamu (Muhammad) bersikap lemah lembut. Kalau kamu sombong dan keras hati, mereka akan lari menjauhkan dirimu”. Karena itu silakan hancurkan permusuhan dan selamatkan musuh.

4. Para wisudawan hari ini hendaklan menjadi orang yang mampu berbakti kepada dua orang tua dan gurunya.
Berbakti pada orang tua merupakan ciri anak yang shaleh dan menghormati guru dan dosen merupakan wasilah yang baik sehingga ilmu seseorang bermanfaat ditengah-tengah masyarakat. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, saya mempunyai ibu yang sudah lanjut usia. Saya mengangkatnya di atas kenderaanku, aku memanggulnya di atas pundakku, aku perhatikan terus dia dan aku santuni dari sebagian pendapatan yang aku peroleh. Apakah berarti, saya sudah membalas jasanya? Rasulullah SAW menjawab: “Belum 3 kali”. Mengapa begitu ya Rasulullah? Tanya sahabat itu. Rasulullah SAW menjawab: “Karena ibumu benar-benar mencintaimu dan berkhidmad untuk mu. Kamu benar mencintai ibumu. Akan tetapi sesungguhnya kamu sedang menunggu kapan ibumu meninggal.

5. Para wisudawan hari ini handaknya menjadi orang-orang yang mampu meringankan dan mengulurkan tangan untuk membantu masyarakat, membantu pemerintah yang sedang giat-giatnya membangun, menjalankan Syariat Islam dan tebarkan perdamaian di bumi Bireuen dan Aceh khususnya serta Indonesia pada umumnya, sehingga terwujud masyarakat yang aman, tenteran, damai, adil, sejahtera di bawah naungan Ridha Allah SWT
Ada empat semboyan yang dicanangkan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat madani:
a. Tebarkan perdamaian
b. Eratkan tali persaudaraan
c. Pedulilah terhadap masalah sosial
d. Bertahajudlah pada malam hari, sujud bersimpuh di hadapan Allah SWT mengharap ridha dan kasih sayang-Nya.

6. Para wisudawan hari ini handaklah selalu ingat dengan Almamaternya yaitu IAI Almuslim Aceh
Almuslim adalah ibu kandungmu yang kedua. Dialah yang telah meluluskan kamu menjadi Sarjana. Almamater tidak ingin meminta balas jasa, tapi berjasalah. Almamater senang benar, kalau alumninya sukses di tengah-tengah masyarakat, dapat berjuang dan membantu masyarakat. Tapi almamater akan sangat merasa sedih dan terpukul ketika alumninya ada yang berakhlak buruk dan lemah semangat untuk berjuang.
Kami juga menitipkan nama baik IAI Almuslim Aceh di hati dan jiwa wisudawan-wisudawati yang paling dalam, yang selalu mengalir dalam darah, bergerak dalam denyut nadi dan bersemayam dalam detak jantung. Karena apapun yang dilakukan saudar-saudari sebagai alumni, akan berpengaruh besar terhadap IAI Almuslim kita, baik dan buruknya. Kiprah positif wisudawan-wisudawati di masyarakat sangat membantu kami dalam meningkatkan nama baik dan penilaian masyarakat terhadap almamater kita. Karena itu, mari kita selalu menjaga nama baik IAI Almuslim baik dari dalam maupun dari luar, melalui saudara-saudari sebagai alumni.

7. Para alumni yang diwisuda pada hari ini saya berpesan marilah kita saling doa-mendoakan
Doa adalah senjata orang mukmin. Dosen mendoakan mahasiswanya. Mahasiswa mendoakan dosennya. Alumni mendoakan dosennya dan dosen mendoakan alumninya. Orang tua mendoakan anaknya. Anak mendoakan orang tuanya, begitu seterusnya. Allah berfirman: “Berdoalah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”.
Jalinlah batthiniyah ini dengan sangat erat, Karena persolan ini banyak orang sekarang kurang memperhatikannya, sehingga hati terasa kering. Kita hanya mengandalkan otot dan otak, lupa dengan aspek rohaniyahnya. Satu-satunya senjata yang tidak dimiliki oleh kafir adalah doa, yang lain kafir lebih janggih dari kita. Karena itu berdoalah.

Pemerintah dan kita sedang berupaya membangun, melaksanakan amanat Allah SWT dan umat. Pembangunan akan berhasil, ketika kita bersama-sama menciptakan situasi yang damai, memelihara persatuan dan kesatuan serta ikhlas mengharap ridha Allah SWT. Sebaliknya, pembangunan akan gagal ketika situasi tidak kondusif, saling bermusuh-musuhan dan egois mau menang sendiri. Sebagai umat Islam, karena didorong rasa bertanggung jawab di hadapan Allah SWT, marilah kita menjaga persatuan dan kesatuan, menjalin tali persaudaraan dan terus menjaga dan menebarkan perdamaian dan menghindari hal-hal yang dapat merusak persaudaraan, Rasulullah SAW, bersabda;
1. Janganlah kamu saling dengki-mendengki
2. Janganlah kamu saling menggajal antara satu sama lain, karena itu semua saudaramu. Berkompetisilah secara fair dan penuh ukhuwah.
3. Janganlah kamu saling bermusuhan
4. Orang Islam itu saudara bagi orang Islam yang lain.
5. Janganlah kamu aniaya, kamu meremehkan, kamu hina saudaramu.

Pesan spritual ini memberikan spirit kepada kita bahwa betapa pentingnya kesatuan, persatuan dan kebersamaan. Dengan kebersamaan, seberat apapun beban yang kita pikul, pasti dapat kita selesaikan. Jika kita terus berpecah belah, saling melemahkan, saling mencaci, maka ingat didepan kita terbentang suatu situasi persaingan global yang disebut dengan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Mengantisipasi hal ini (MEA), seluruh kekuatan Civitas Akademika IAI Almuslim Aceh diarahkan untuk mewujudkan visinya yaitu “Unggul di Indonesia pada tahun 2022 serta menuju Institut bertaraf International pada tahun 2025”. Untuk mewujudkan visi serta merespon pemberlakuan ASEAN Economic Community ini, IAI Almuslim telah mengambil langkah-langkah kongkritnya, yaitu:

1. Semua Program Studi yang ada di IAI Almuslim ini sudah terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Republik Indonesia, karena itu jangan ragu dengan status IAI Almuslim ini. Alumninya bertaburan mulai dari eksekutif, Yudikatif sampai legislatif, mulai dari Bireuen, Aceh sampai di Senayan-Pun terdapat Alumni IAI Almuslim Aceh serta hingga Manca Negara.

2. IAI Almuslim tercinta ini juga telah menjalin berbagai kerja sama international dalam rangka pengembangan sayap dan ekspedisi global. Seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

3. IAI Almuslim Aceh mulai tahun 2016 yang lalu telah mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan Praktek Kerja ke sejumlah negara. Tahun kemarin 10 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam kita magangkan Ke Bursa Efek Indonesia di Jakarta. 2 orang Mahasiswa Fakultas Tarbiyah kita kirimkan ke Madrasah Alhidayah Perak Malaysia.

4. Pada tahun 2017 ini, 40 Mahasiswa IAI Almuslim rencananya akan kita magangkan ke Sejumlah Madrasah, Perusahaan serta Lembaga Keuangan di berbagai negara bagian Malaysia. Ini kita lakukan dalam rangka merespon ASEAN Economic Community.

5. Di samping itu juga, IAI Almuslim secara internal terus melakukan berbagai pembenahan, baik dalam bidang akademik dan pembangunan, serta pengembangan Sumber Daya Manusia.

6. IAI Almuslim juga menyediakan berbagai Beasiswa kepada mahasiswanya, Diantaranya Beasiswa Bidik-Misi, Beasiswa Tahfidhul Quran, Beasiswa Miskin Berprestasi, serta beasiswa-beasiswa lainnya.

7. Perlu juga kami sampaikan disini bahwa Insya Allah kalau tidak ada arang melintang sekitar bulan Oktober 2017 ini kami akan melakukan presentasi di Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta dalam rangka pendirian Program Pasca Sarjana IAI Almuslim Aceh. Salah satu syarat yang paling berat adalah menyediakan minimal 6 orang dosen bergelar doktor (S3), Alhamdulillah IAI sampai hari ini kita telah memiliki 7 (tujuh) orang doktor yaitu: 1) Dr. Saifullah, S.Ag, M.Pd Alumni UIN Sumatera Utara, 2) Dr, Athaillah, MA, Alumni UAI Kuala Lumpur, 3) Dr. Nazaruddin, MA, Alumni UIN Sumatera, 4) Dr. Tgk. Murtadha Yusuf, MA, Alumni Fakultas Hukum Islam UIN Sumatera, 5). Dr. Maya Safitri, MA alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 6). Dr. Nurlina, M.Pd Alumni Prodi Teknologi Pembelajaran Universitas Malang serta 7) Dr. Dhiauddin, MA, Jebolan Universitas Maulana Malek Ibrahim Malang, serta 3 dosen lainnya sedang menunggu jadwal promosi doktornya, yaitu 1) Saudara Mahdi Wahyuni Salam, MA di Universitas Islam Sudan. 2) Saudara H. Abdul Ghani, Lc, MA di Universitas Islam Dubai, serta 3). Saudara H. Ahmad Fauzan, Lc, MA di Universitas Azzaitunah Tunisia dan 12 dosen IAI Lainnya kini sedang menempuh pendidikan Doktorolnya di berbagai Perguruan Tinggi manca negara.

Mengakhiri pidato ini, saya akan sampaikan pesan guru saya yaitu Prof. Dr. H. Endin Nasruddin, M.Si (Guru Besar Psikologi UIN Sunan Gunung Jati bandung) yaitu tentang kisah 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Perubahan. Namun manusia tak mau berubah. Maka lebih baik aku matikan diriku saja!” Sedikit demi sedikit sang lilin pertama inipun padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenaliku. Untuk itu tak ada gunanya aku tetap menyala. Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin yang ketiga berbicara: “Aku adalah Cinta. Tak mampu lagi aku menyala karena manusia tidak lagi mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci sesama saudara”. Tanpa menunggu waktu lama, maka lilin ketigapun tamat riwayatnya.
Tanpa terduga... Seorang pemuda masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena pemuda itu takut kegelapan, ia-pun berkata: “Eeeh apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala, Aku takut kegelapan!” pemuda itupun menangis tersedu-sedu. Lalu dengan haru Lilin keempat berkata:
“Jangan takut, Jangan menangis kawan, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat menyalakan ketiga lilin lainnya. Akulah LILIN HARAPAN”. Dengan mata berskaca-kaca, sang pemuda mengambil lilin HARAPAN, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Dari kisah 4 lilin ini kita dapat mengambil pelajaran. Apa yang tidak pernah mati yaitu HARAPAN yang ada dalam hati....... Masing-masing kita dapat menjadi aktor, seperti sang pemuda tadi, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Cinta, dan Perubahan dengan LILIN HARAPAN-nya!!!
Para wisudawan/wisudawati adalah PEMUDA-PEMUDI HARAPAN. DI TANGAN MU ADA HARAPAN. DI PIKIRANMU ADA IMPIAN. DI HATIMU ADA MASA DEPAN. Wisudawan-wisudawati adalah ASET YANG TAK TERNILAI KARENA HATIMU SELALU MENYALA untuk membangun bangsa, negara dan agama. SALAM PERUBAHAN.

Wallahulmuwafiq ila akwamiththariq.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
Rektor IAI Almuslim Aceh

Dr. Saifullah, S.Ag, M.Pd
NIK. 005 1327 1973 1100 001

Lewat ke baris perkakas